Ketua KWI dan Sekretaris AWPI, Isu Pendataan Media UKW oleh Kominfo Tulangbawang Dipastikan Hoaks
TULANGBAWANG –Surya bangkit com- Beredarnya isu pendataan nama-nama media dan wartawan yang telah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Tulangbawang memicu kegaduhan dan konflik di internal insan pers. Isu tersebut dipastikan tidak benar alias hoaks, Senin (12/01/2025).
Ketua Komite Wartawan Indonesia (KWI), Jeffry Prautama, S.Kom, bersama Sekretaris Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia (AWPI), Peri Yadi, menegaskan bahwa informasi mengenai pengumuman pendataan wartawan UKW oleh Kominfo adalah kabar yang menyesatkan.
“Pengumuman pendataan wartawan yang telah UKW itu tidak benar atau hoaks. Informasi tersebut tidak pernah dikeluarkan secara resmi,” tegas Peri Yadi saat dikonfirmasi.
Jeffry Prautama menambahkan, pihaknya telah melakukan klarifikasi langsung kepada Kominfo Kabupaten Tulangbawang. Dari hasil konfirmasi tersebut, Kominfo memastikan tidak pernah mengeluarkan pengumuman atau kebijakan sebagaimana isu yang beredar.
“Kami sudah konfirmasi langsung ke Kominfo, dan dijelaskan bahwa jika memang ada program atau pendataan resmi, pasti akan diumumkan secara terbuka. Saat ini, itu semua tidak benar,” ujar Jeffry.
Sementara itu, di tempat terpisah, perwakilan Kominfo Tulangbawang berinisial SW juga membantah tegas isu tersebut. Ia menyatakan tidak pernah ada pengumuman resmi terkait pendataan wartawan atau media yang telah mengikuti UKW.
“Kami tidak pernah mengeluarkan pengumuman itu, dan informasi yang beredar jelas tidak benar,” kata SW.
SW menegaskan, apabila ke depan terdapat kebijakan atau program yang berkaitan dengan UKW atau pendataan media, Kominfo akan menyampaikannya secara resmi kepada publik dan insan pers.
“Yang jelas, kalau sudah dibuka atau ada kebijakan, pasti akan kami umumkan. Untuk saat ini, kami masih menunggu arahan pimpinan,” pungkasnya.
Para pimpinan organisasi wartawan tersebut mengimbau seluruh insan pers agar tetap menjaga profesionalisme, etika jurnalistik, serta tidak mudah terpancing isu yang belum terverifikasi kebenarannya.
Mereka menekankan bahwa pers seharusnya menjadi pilar pemersatu dan penjaga nalar publik, bukan justru terpecah oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. (***)








